Tampilkan postingan dengan label kanker serviks. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kanker serviks. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Desember 2013

Wanita Rentan terhadap Kanker Serviks, ini Solusinya

Para wanita sangat rentan terhadap penyakit ini. Penyakit yang membawa penderitaan berkepanjangan apabila tidak ditangan dengan cermat. Wahyuni (40) asal Depok, Jawa Barat mengalami pendarahan dan ketika diperiksa di rumah sakit, ia dinyatakan menderita kanker serviks stadium dua. “Saya mengalami pendarahan hebat setelah menstruasi, dan saya cek ke dokter, dokter bilang saya kena serviks. Saya jadi takut dan stress, namun karena dukungan suami dan keluarga, saya putuskan untuk konsumsi herbal Amazon Plus dan K-Muricata,” ujar Ibu rumah tangga biasa ini. Pertolongan selalu datang apabila kita mencari pertolongan itu. Amazon Plus dan K-Muricata sebagai bala bantuan dari Tuhan untuk Yuni yang akrab disapa. “Saya minum Amazon Plus 90 ml sebanyak 3 kalai dalam sehari karena badan saya drop terus, jadi menurut konsultan herbal Amazon Plus, saya disarankan minum Amazon Plus lebih banyak dan lebih rutin. Hasilnya memang terasa, saya tadinya susah tidur, setelah minum Amazon Plus baru 10 menit lalu, mata saya ngantuk sekali, saya akhirnya tertidur pulas di siang hari, bangun tidur badan rasanya enteng, segarlah pokoknya,” tuturnya.

Setelah 5 hari Yuni minum Amazon Plus, hari ke-6 Yuni disarankan untuk minum juga K-Muricata. “Saya minum K-Muricata 2 sachet sehari. Selama 5 hari sebelumnya kan saya minum Amazon Plus saja, itu darahnya masih keluar sedikit, tapi tidak sering, kalau dulu waktu belum minum herbal, darahnya keluar terus, makanya badan saya jadi lemas,” tukasnya. Syukur Alhamdulillah, setelah 14 hari rutin konsumsi Amazon Plus dan K-Muricata, Yuni ditemani Fadilah suaminya ke dokter untuk diperiksa.

Betapa menggembirakan, mendapat hasil pemeriksaan dari dokter yang mengatakan penyakit serviks sudah tidak ada. “Saya selalu katakan dalam hati saya, bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya, tidak mungkin tidak ada, makanya saya bisa menemukan Amazon Plus dan K-Muricata ini,” ujarnya. Sebagai pencegahan dan perawatan kesehatan yang alami, Yuni dan suami serta anak-anaknya minum Amazon Plus dan K-Muricata setiap hari. “Kalau Amazon Plus saya, suami dan anak-anak minum 30 ml sehari dan K-Muricata hanya saya dan suami yang minum, satu sachet kami bagi dua,” ceritanya polos.

Senin, 08 Juli 2013

Kanker serviks, berbahaya tapi bisa dideteksi

Kebanyakan kasus kanker serviks atau kanker leher rahim ditemukan dalam stadium lanjut karena pada tahap awal biasanya penyakit ini tidak memberikan gejala. Tapi bukan berarti kanker leher rahim (serviks) tidak bisa dideteksi dan dicegah.

Secara umum ada dua cara pencegahan kanker serviks yang disebabkan oleh infeksi human papilloma virus (HPV), yakni pencegahan primer dengan vaksinasi serta pencegahan sekunder dengan pemeriksaan pap smear berkala.

Namun, baik upaya pencegahan primer maupun sekunder belum banyak dilakukan di negeri kita sehingga kanker servik masih merupakan kanker yang sering dijumpai pada perempuan.

"Setiap wanita berpeluang menderita kanker. Pap smear sampai saat ini masih jadi metode deteksi dini kanker leher rahim terbaik, terutama bagi yang pernah berhubungan seksual," kata dr. Chamim, Sp.OG (K) dari Brawijaya Women and Children Hospital, pada acara bertema Early Detection Cervical Cancer and Breast Cancer di Jakarta, Sabtu (6/7).

Pap smear sebaiknya dilakukan secara rutin. Pemeriksaan dilakukan 5 hari setelah haid.  Pemeriksaan ini mengambil contoh sel leher rahim wanita.

Jika hasil pemeriksaan negatif menandakan tidak adanya sel kanker. Meski begitu gaya hidup sehat tetap harus dilakukan untuk menekan risiko kanker. "Jangan lupa untuk kembali pap smear dalam satu atau 2 tahun," katanya.

Sementara itu jika hasil tes positif, menandakan adanya perubahan sel pada tubuh wanita. Chamim menyarankan wanita melakukan biopsi untuk memastikannya. Melalui tes ini akan diketahui apakah sel hanya sekedar berubah (displasia), atau sudah menjadi kanker. Selanjutnya dokter akan menentukan terapi apa yang sebaiknya dijalani.

Pap smear sendiri tidak 100 persen menentukan adanya perubahan sel yang merujuk pada kanker. Tingkat akurasinya berkisar antara 70-95 persen, bergantung pada laboratorium penguji, misalnya keakuratan pengambilan sampel, pengolahan bahan, sampai interpretasi gambar sediaan sampel.

Itu sebabnya terkadang ditemukan adanya hasil false negatif (sel dinyatakan normal padahal terdapat perubahan sel) dan false positif (hasil tes mengatakan wanita memiliki sel leher rahim abnormal padahal sel tersebut sesungguhnya normal).

Namun kesalahan ini bisa diminimalisir bila wanita rutin melakukan pap smear. "Kalau rajin pap smear jadi lebih mudah dan cepat ketahuan. Apalagi bila dokternya sudah sering melakukan pap smear, mungkin kurang dari seminggu sudah ada hasil," jelas Chamim.

Selain pap smear, Chamim menyarankan tes menggunakan Internal Visual with Acidity Avid (IVA). Tes ini menggunakan asam asetat dengan kadar 3-5 persen, yang diteteskan pada leher rahim. Apabila terdapat lesi atau bercak keputihan, maka terdapat perubahan sel yang mengindikasikan pasien untuk melakukan tes lanjutan.

Tes ini, kata Chamim, tidak memerlukan alat atau kapasitas tertentu. "Dokter atau bidan puskesmas bisa melakukannya. Metode ini banyak dipakai di negara berkembang dengan sumber daya terbatas," ujarnya.

Hasil tes IVA juga bisa terbaca dalam waktu kurang dari satu menit. Menurut Chamim, pap smear dan IVA sama efektifnya sebagai deteksi dini cegah kanker. Pengulangan IVA juga sebaiknya dilakukan 1-2 tahun.

Dengan adanya dua metode ini, kata Chamim, tidak ada lagi alasan untuk tidak melakukan deteksi dini kanker leher rahim pada wanita.

Sumber: Kompas.com